Sejak hadirnya Nokia 8, saya merasa sang mantan raja smartphone ini bisa bangkit dari tidur panjangnya. Di bawah asuhan HMD Global, kini smartphone Nokia mulai bisa bersaing dengan spek yang menjanjikan, desain yang cantik dan harga kompetitif.

Nokia 6.1 plus
Nokia 6.1 plus

Bahkan smartphone nokia yang satu ini juga masuk dalam keluarga Android One, yang otomatis mendapat dukungan penuh dari Google.

Seberapa greget smartphone nokia ini di kelas mid-range? Saya, Arya dari teknocanggih.com, dan inilah review Nokia 6.1 Plus.

Review Nokia 6.1 plus indonesia

Dengan spesifikasi yang sama, mungkin sobat akan menemukan smartphone yang lebih murah dari Nokia 6.1 Plus. Tapi kalau bicara soal build quality nokia ini ada di level yang berbeda.

Bodi Nokia 6.1 Plus ini mengawinkan elemen kaca dan metal,
yang membuatnya terasa solid luar-dalam.

Nokia 6.1 plus belakang
Nokia 6.1 plus belakang

Ya, frame metalnya ini benar-benar keras dan tidak sekerupuk bodi smartphone Tiongkok kebanyakan. Bahkan permukaan kaca di bodi belakangnya ini sudah dilapisi Gorilla Glass 3.

Meski sekilas cakep, material kaca ini identik dengan permukaan yang licin dan gampang meninggalkan bekas sidik jari. Scratch atau goresan halus sih sejauh ini tidak ketemu tapi buat jaga-jaga, memasang case adalah salah satu solusi yang bijak.

Nokia 6.1 plus belakang #2
Nokia 6.1 plus belakang #2
Nokia 6.1 plus belakang #3
Nokia 6.1 plus belakang #3
Nokia 6.1 plus belakang #4
Nokia 6.1 plus belakang #4

Buat kaum gratisan, jangan ngarep ya nokia memberi bonus jelly case di paket penjualan. Maka dari itu, setelah unboxing saya langsung buru-buru beli case agar tetap aman.

Slot SIM Tray-nya masih memakai model hybrid yang jadi salah satu deal breaker untuk Gadgeteers penikmat dual SIM dan pasang microSD sekaligus.

Nokia 6.1 plus slot sim card
Nokia 6.1 plus slot sim card

Layar full view 19:9 Nokia 6.1 Plus Indonesia

Mencoba tampil kekinian, Nokia 6.1 Plus ini punya layar full view 19:9 dengan ciri khas poni di atas. Sekilas memang sulit membedakan dengan smartphone lain mengingat desain berponi begini sudah mainstream sekali.

Nokia 6.1 plus depan
Nokia 6.1 plus depan
Nokia 6.1 plus depan #2
Nokia 6.1 plus depan #2
Nokia 6.1 plus notch
Nokia 6.1 plus notch

Satu-satunya identitas yaa tulisan Nokia di bagian dagu smartphone. Selain build quality yang solid dan feel premium satu hal yang saya suka yaitu dimensinya yang compact sekali. Hingga artikel review ini dibuat, bisa dibilang Nokia 6.1 Plus ini smartphone berponi tercompact yang pernah saya pegang.

Rasanya seperti memegang smartphone 5″ yang kini semakin langka. Memang, aslinya ukuran layar smartphone ini berapa sih?Pemilihan ukuran layar 5.8″ adalah jawaban kenapa Nokia 6. 1 Plus ini terasa sangat compact karena yang kita lihat selama ini rata-rata smartphone dengan layar fullview itu punya ukuran layar 6″ ke atas.

Nokia 6.1 plus one plus
Nokia 6.1 plus one plus
Nokia 6.1 plus tampilan viceo
Nokia 6.1 plus tampilan viceo
Nokia 6.1 plus tampilan video #2
Nokia 6.1 plus tampilan video #2

Dengan resolusi Full HD+ dan layar yang lebih mungil tentu kerapatan pixelnya lebih tinggi, di 435 ppi. Secara tampilan, layar Nokia 6.1 Plus ini punya warna yang punchy dan sangat kontras.

Saya suka tone warna layar ini yang pas saja sih tidak terlalu lebay warnanya dan enak dipakai untuk menonton film dengan durasi yang lama.

Nokia 6.1 tampak samping
Nokia 6.1 tampak samping

Dilihat dari berbagai sisi, dan sudut pandang yang ekstrim tampilan panel IPS LCD ini juga tetap tajam. Bagi sebagian orang, notch di atas ini mungkin merusak aspek visual. Ditambah lagi tak ada opsi untuk menyembunyikan si poni nanggung ini.

Tapi tenang saja, saat dipakai untuk streaming video nonton film, atau main game sekalipun tampilannya tetap terjaga di rasio 18:9 dan tidak terpotong oleh notch tadi.

Baca juga:  Harga Terbaru dan Spesifikasi Oppo A57: Kamera Selfie 16 MP
Nokia 6.1 plus game
Nokia 6.1 plus game

Nah, biar pengalaman fullview-nya lebih dapat, tombol navigasi klasik ini bisa digantikan kontrol gesture swipe up  yang membuat layarnya semakin lega.

Fitur legendaris Ambient Display yang menampilkan waktu dan notifikasi saat layar off juga masih diusung Nokia 6.1 Plus bisa dibilang sebelum ada Always On Display, fitur ini sudah ngetop duluan di seri Nokia Lumia.

Menggunakan Sistem Androis Oreo 8.1

Seperti halnya smartphone Android One lain, Nokia 6.1 Plus ini juga memakai sistem operasi Android murni tanpa kustomisasi.

Versi Android-nya sudah Oreo 8.1 dengan security patch update yang rutin setiap bulan. Memang, dari segi dukungan OS, Android One jadi salah satu yang diprioritaskan selain lini Pixel. Jaminan update hingga 2 tahun ke depan jelas jadi poin menarik terutama untuk Sobat yang setiap tahun tidak harus ganti smartphone, cuma buat menikmati OS yang kekinian.

Oh ya, buat Sobat yang tidak sabaran update Android Pie 9.0
sudah disiapkan di Nokia di Beta Labs, tinggal request dan siap diunduh via OTA. Tapi ingat ya, ini masih versi beta. Beli Android One itu ibarat beli bakso kosongan.

Tampilan dan isi yang standar dari Google tanpa kustomisasi dari vendor smartphone. Inilah yang saya suka dari Android Pure atau Android Murni. Kita diberi kebebasan untuk mengisi smartphone kita dengan apa yang kita mau saja sehingga tak ada aplikasi
yang mubazir diinstall dan memakai sebagian memori tapi tak pernah dipakai sama sekali.

Efeknya, konsumsi RAM 4GB-nya jauh lebih lega begitu juga dengan penyimpanan internal storage 64GB on board. Dapur pacu menjadi upgrade menarik dari seri Nokia dengan kepala 6 ini. Setelah cukup kecewa dengan Nokia 6 yang hanya diotaki Snapdragon 430 HMD Global sepertinya mampu membaca peta politik persmartphonean dengan jeli.

Nokia 6.1 plus memori
Nokia 6.1 plus memori
Nokia 6.1 plus memori #2
Nokia 6.1 plus memori #2

Pemilihan Snapdragon 636 memang sudah sangat tepat untuk menandingkan Nokia 6.1 Plus dengan para rival di kelasnya seperti Xiaomi Redmi Note 5 dan Asus Zenfone Max Pro M1.

Nokia 6.1 plus antutu
Nokia 6.1 plus antutu
Nokia 6.1 plus antutu #2
Nokia 6.1 plus antutu #2

Chipset berbasis Kryo 260 ini sedang naik daun karena sudah pakai sistem custom care ala chipset flagship. Sederhananya begini, dari 8 core yang ada sudah dibagi-bagi tugas itu mana yang harus perform maksimal saat handle tugas berat seperti main game atau edit video, dan mana yang handle aplikasi yang ringan dan manage di background RAM.

Dengan dibagi-bagi begini, tentu performanya tetap bisa dimaksimalkan tanpa harus khawatir baterai cepat habis. Untuk penggunaan standar harian, performa smartphone ini smooth sekali, baik saat berpindah antar menu switch dari satu aplikasi ke aplikasi lain scroll page dan feed social media.

Nokia 6.1 plus multitasking
Nokia 6.1 plus multitasking

Mode multitasking via split screen Picture in Picture juga bisa digunakan, yang makin menambah produktivitas Sobat saat harus membuka dua aplikasi di satu waktu.

Spek powerfull ada yang kurang kalau tidak dipakai main game. Main MOBA analog seperti Mobile Legends ngacir banget sejauh ini sih tidak ketemu lag yang membuat experience gaming menurun.

Main di mode high frame rate tentu lebih nyaman meski harus mengorbankan konsumsi daya yang lebih besar. Game battle royale seperti PUBG Mobile juga lumayan dimainkan di smartphone nokia ini, meski seperti smartphone dengan Snapdragon 636 lainnya, mode grafis defaultnya hanya dapat yang lowest graphics.

Baca juga:  Review OPPO F9 Terlengkap: Harga Murah, Design Mewah, Fast Charging serta Layar Lega

Di mode grafis terendah ini, game berjalan tanpa hambatan pergerakan karakternya smooth, kontrolnya enak karena ini layar benar-benar responsif kinerjanya.

Main di mode high sih sebenarnya masih bisa tapi saya tidak menyarankan, karena terkadang pengalaman bermain Sobat
sedikit berkurang karena tak se-smooth mode low tadi, Hmm. . . . stater lag-nya sih tidak lebay artinya, masih bisa dibilang wajar
untuk game dengan maps seluas PUBG Mobile.

Dual Kamera Nokia 6.1 Plus Indonesia

Nokia 6.1 Plus dibekali dual kamera di belakang dengan resolusi kamera utama 16MP dan kamera sekunder 5MP untuk depth sensor. Kalau boleh jujur, saya kurang suka UI kameranya. Menu-menunya kurang intuitive, tak banyak yang bisa di explore, terutama mode manual yang sangat minimalis ini.

Nokia 6.1 plus kamera belakang
Nokia 6.1 plus kamera belakang
Nokia 6.1 plus kamera belakang #2
Nokia 6.1 plus kamera belakang #2
Nokia 6.1 plus hasil kamera belakang
Nokia 6.1 plus hasil kamera belakang

Dan karena tak berlabel Zeiss Optics update Nokia Camera yang
kini bisa dinikmati di Nokia 8 tidak support di Nokia 6.1 Plus ini. Terlepas dari itu, hasil kameranya di outdoor pada siang hari
cukup menjanjikan.

Nokia 6.1 plus hasil kamera belakang #2
Nokia 6.1 plus hasil kamera belakang #2
Nokia 6.1 plus hasil kamera belakang #3
Nokia 6.1 plus hasil kamera belakang #3
Nokia 6.1 plus hasil kamera belakang #4
Nokia 6.1 plus hasil kamera belakang #4

Reproduksi warna foto yang dihasilkan joss gandos detail-nya juga mantep. Sudah menunjukkan kelas kamera smartphone Rp 3 jutaan lah. Namun performa HDR-nya masih terasa kurang greget saja. Oh iya, untuk foto-foto di tempat kaya cahaya sebaiknya jangan tap pada layar saat membidik obyek karena membuat kamera ini akan menaikkan exposure terlalu lebay.

Dengan bukaan lensa f/2. 0, kamera ini masih sangat bisa diandalkan di kondisi lowlight. Contohnya saat menonton konser begini, hasilnya masih cukup bersih dari noise dan warna lampu sorot masih cukup digambarkan dengan detail.

Nokia 6.1 plus hasil kamera belakang low light
Nokia 6.1 plus hasil kamera belakang low light

Hanya saja, saya tak menemukan hasil yang sama bagusnya saat foto-foto di jalanan ibukota. Foto dipaksakan terang dengan menaikkan ISO maksimal yang membuat noise kemana-mana.

Karena ada depth sensor, Sobat bisa mengabadikan foto-foto Portrait alias bokeh dengan tingkat blur yang bisa disesuaikan sebelum dan sesudah jepret.

Nokia 6.1 plus hasil kamera belakang bokeh #2
Nokia 6.1 plus hasil kamera belakang bokeh #2
Nokia 6.1 plus hasil kamera belakang bokeh
Nokia 6.1 plus hasil kamera belakang bokeh

Paling pas sih, di tingkat blur 50% yah yang bokehnya terlihat
lebih natural dan ala-ala memakai kamera DSLR. Cuma memang,
di mode Live Bokeh ini detail foto tak begitu menonjol daripada mode foto biasa.

Dengan resolusi yang sama-sama 16MP performa kamera depannya cukup menjanjikan di outdoor. Tone warnanya asik, detailnya dapat dan bisa juga memakai mode portrait seperti kamera belakang meski hanya punya satu sensor saja di depan.

Cuma memang, di lowlight agak kurang menjanjikan. Absennya LED Flash di depan, digantikan screen flash yang lebih kekuningan untuk menjaga tone kulit wajah tetap natural.

Salah satu fitur yang dijual nokia adalah Dual Sight Mode atau yang lebih dikenal dengan nama Bothie. Memakai kamera depan dan belakang sekaligus memang jarang-jarang ada di smartphone lain, meski saya sendiri masih kurang bisa memaksimalkan fitur ini.

Mungkin seru saja dipakai untuk nge-vlog di mana muka kita dan apa yang kita lihat di depan bisa sama-sama terekam. Ada juga mode Live di YouTube dan Facebook yang lagi-lagi jarang sekali  saya pakai.

Mungkin kalau bisa live dengan Dual Sight Mode di Instagram rasanya bakal lebih sering dipakai. Tidak ketinggalan fitur AR Sticker ala animoji juga bisa dipakai di smartphone ini.

Baca juga:  Review samsung galaxy j4+: Harga Terbaru dan Spesifikasi Lengkap 2018

Kamera belakang smartphone ini sudah mendukung perekaman video 4K. Tapi sepertinya, saya lebih tertarik memakai mode Full HD, di mana EIS ini aktif untuk merekam video yang lebih stabil dan berasa seperti pakai gimbal.

Kamera depan smartphone ini bisa merekam video maksimal resolusi Full HD di 30fps. Yang menarik, kamera sudah dibekali dengan EIS atau Electronic Image Stabilizer untuk perekaman video yang lebih stabil.

Tidak hanya itu saja, Sobat juga bisa mengabadikan momen dalam gerak lambat alias slow-motion di 120 fps dan juga timelapse.

Overall, sebenarnya tak ada yang spesial banget di kamera Nokia 6.1 Plus ini, tapi saya sendiri tak bilang jelek juga. Tidak jelek, cuma memang hasil kamera rival sekelasnya rata-rata jauh lebih menggiurkan.

Nokia 6.1 plus #2
Nokia 6.1 plus #2

Saya berharap HMD masih bisa meningkatkan hasil kamera ini lebih cakep lagi, terutama image processing-nya yang digulirkan
via update software.

Untuk menunjang kinerja dan fitur-fitur terbaiknya tadi Nokia 6.1 Plus ini dibekali baterai 3060 mAh. Angka yang terbilang nanggung, mengingat rata-rata baterai smartphone jaman now sudah tiga ribuan ke atas.

Awalnya, saya juga skeptis, apa benar ini smartphone bisa digeber seharian? Setelah semingguan jadi daily driver, jawabannya bisa banget! Orang memakai smartphone biasanya
paling untuk menghabiskan waktu yaa kalau tidak sosial media ya main game.

Digeber untuk dua hal itu, plus foto-foto screen on time yang dihasilkan tembus 6 jam. Di sini saya hanya memakai single SIM 4G dan kecerahan layar 25%.

Lain kondisi, lain lagi ceritanya jadi, jangan jadikan patokan yah,
karena kebutuhan dan cara pakai smartphone tiap orang berbeda-beda.

Sebenarnya Nokia 6.1 Plus ini sudah mendukung Qualcomm Quick Charge 3.0 namun sayang sekali, charger bawaannya belum punya teknologi tersebut.

Isi ulang dari 10% sampai penuh butuh waktu 2 jam 4 menit. Bisa lebih cepat lagi dengan membeli adapter Quick Charge 3.0 secara terpisah.

Soal desain dan juga performa, Nokia 6.1 Plus ini memang sukses mencuri perhatian saya. Tapi tetap saja tak ada yang sempurna kecuali Yang Maha Kuasa.

Nokia 6.1 plus depan
Nokia 6.1 plus depan

Absennya Face Unlock dan NFC mungkin bisa jadi deal breaker yang membuat sebagian orang mikir-mikir lagi untuk menimangnya. Jadi kesimpulannya, Nokia 6.1 Plus ini cocok buat siapa? Kalau Sobat mencari smartphone dengan kamera terbaik di kelas Rp 3 jutaan baterai jumbo dan NFC sebaiknya segera coret Nokia 6.1 Plus dari daftar.

Smartphone ini rasanya lebih cocok buat Gadgeteers yang ingin punya smartphone fullview dengan bodi premium dan compact.

Memakainya enak banget, ditambah jaminan update OS Android.  hingga 2 tahun yang membuat smartphone ini punya masa pakai yang lama. Dual Sight Mode-nya unik dan untuk orang yang kreatif bakal bisa memanfaatkan fitur ini untuk nge-vlog dua arah.

Baterainya mungkin tak sebesar para rivalnya namun dengan kompatibilitas Quick Charge 3.0 bisa mengatasi galau kelamaan
cuma karena baterai yang lowbatt, ya meski harus beli adapternya sendiri.

Oke, sekian sekian artikel Nokia 6. 1 Plus. Jika sobat suka artikel review Nokia 6.1 plus indonesia dari teknocanggih.com jangan lupa like dan share ya..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here